Kamis, 26 September 2019

AMKI Ajak Koperasi Untuk Garap Sektor Perumahan

Foto : ANTARA
Asosiasi Manajer Koperasi Indonesia (AMKI) mengajak koperasi untuk ikut menggarap sektor perumahan rakyat di Indonesia.

"Sudah saatnya koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi di Indonesia memiliki peran untuk menunjang dan mendorong peningkatan pertumbuhan sektor perumahan dengan memposisikan diri sesuai jenis dan klasifikasinya," ujar Ketua Umum AMKI Sularto di Jakarta, Senin (17/9).

Sularto mengatakan bahwasanya ada enam unsur penting dalam sektor perumahan yaitu pengembang, pembeli, pemerintah, lembaga keuangan, asuransi, dan pemasok.
Menurut dia, koperasi bisa menjadi developer (pengembang) sehingga bisa muncul koperasi jasa konstruksi, sementara sebagai konsumen koperasi juga bisa bekerja sama dengan koperasi pekerja atau koperasi karyawan, koperasi Jasa Keuangan bisa dalam bentuk syariah maupun non syariah sebagai lembaga pembiayaan.

"Jika kita himpun dari data terbaru, koperasi telah melayani anggotanya dalam pembangunan rumah dan jumlahnya terus meningkat," ujar Sularto

Ia mengutip data Masyarakat Peduli Perumahan dan Permukiman Indonesia (MP3I) pada 2004, sudah ada 18 koperasi bahkan data terakhir yang disampaikan oleh Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM pada 2014 jumlahnya naik menjadi sekitar 200 koperasi di Indonesia.

Kontribusi koperasi dalam pengadaan perumahan untuk rakyat secara nasional MP3I mencatat mencapai angka 3,4%.

"Memang angka ini masih sangat kecil tetapi memberikan harapan bahwa peran koperasi dalam melayani anggotanya untuk mendapatkan rumah semakin meningkat," pungkas Sularto

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah bersinergi mendorong koperasi besar dengan menginisiasi bergabungnya koperasi besar maupun menengah dan mengajak mereka membuat koperasi sekunder yang khusus melakukan bisnis perumahan bagi anggota koperasi.

Jika pemerintah bisa memberikan penyertaan modal kepada BUMN kenapa tidak itu juga dilakukan dengan memberikan penyertaan modal kepada koperasi yang menangani sektor strategis seperti perumahan ini.

"Kami sangat yakin jika koperasi berskala besar ini dibangun dan menyentuh kebutuhan masyarakat banyak, maka kontribusi koperasi terhadap perekonomian Indonesia juga akan lebih besar. Sehingga cita cita koperasi menjadi sokoguru perekonomian bukan hanya mimpi belaka," ujar Sularto

Tercatat pada 2017, kebutuhan perumahan di Indonesia menurut BPS adalah 11 juta rumah dimana masyarakat yang sangat membutuhkan perumahan tidak lain adalah kaum urban.

"Masyarakat yang butuh perumahan bukan saja masyarakat yang bankable tetapi di dalamnya adalah pekerja-pekerja informal yang mungkin tidak bankable. Oleh karena itu koperasi harus mampu menjadi ujung tombak pembangunan perumahan di Indonesia," ujar Sularto

Sejumlah koperasi yang telah terjun membiayai sektor perumahan bagi anggotanya di antaranya di Tangerang ada Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) yang memberikan rumah tanpa DP kepada anggotanya.

Demikian juga pada beberapa koperasi besar di Indonesia, ternyata telah banyak memberikan fasilitas pembiayaan perumahan untuk anggotanyaa.

Masyakarat anggota koperasi rata-rata mereka memiliki penghasilan dan telah memenuhi syarat 5C. Sayangnya sebagian dari mereka tidak memiliki jaminan dan uang muka (DP). Hal ini sebagaian besar dapat diatasi oleh koperasi yang terjun pada sektor perumahan melalui kerjasama dengan pemberi kerja, perkumpulan (koperasi) pekerja maupun jaminan BPJS," katanya.

Ia menekankan perlunya inovasi dan skema baru bagi pembiayaan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.



Pihaknya mencatat laporan perbankan pada semester awal tahun ini portofolio pembiayaan untuk sektor perumahan meningkat 51 persen, artinya sektor ini relatif bertumbuh dan banyak diminati perbankan saat ini, hal itu ditunjang tingkat suku bunga yang juga berada pada posisi terendah yaitu 8,7 persen per tahun

Sumber  : AKURAT dot co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar