Kamis, 26 September 2019

Koperasi Rumah Solusi Buat Generasi Milenial


Koperasi Perumahan atau Koperasi Properti memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Koperasi Perumahan Indonesia saat ini belum berkembangan dengan baik, padahal di banyak Negara maju, Housing Co-op adalah salah satu bentuk Koperasi yang sangat diminati. 

Di Amerika Serikat menurut data yang dilansir housinginternational.coop misalnya, pada tahun 2012 ada 6.400 Koperasi Perumahan dengan 1.200.000 Tempat Tinggal yang terbagi menjadi 425.000 Rumah Tinggal terbatas dan 775.000 Tempat Tinggal di tingkat Pasar. Secara keseluruhan Koperasi Perumahan di USA menyumbang sekitar 6% kepemilikan Rumah bersama. Bukan hanya di Negara maju saja, di negara Asia yang sedang berkembang seperti India, Koperasi Perumahan tumbuh dengan sangat subur. 
Pada tahun 2011 tercatat 7 juta Orang menjadi Anggota Housing Co-op dari 100.000 Koperasi Perumahan yang mensuplay 2,5 juta Tempat Tinggal. 
Dari angka 100 ribu Koperasi, hampir 6.000 diantaranya bergerak di Pedesaan dan Koperasi ini telah berkontribusi dalam pembangunan lebih dari 956.000 unit Rumah. 

Fakta Koperasi Perumahan di India menarik untuk dicermati, karena dari banyak aspek Indonesia memiliki kesamaan. Jika di India bisa berkembang , seharusnya di Indonesia jenis Koperasi ini juga bisa tumbuh.


Potensi Koperasi Perumahan Indonesia

Kebutuhan akan hunian saat ini sudah sangat tinggi. Bukan tanpa alasan jika saya menyebut Koperasi Perumahan Indonesia adalah solusi perumahan untuk Generasi Milenial. 

Tahun 2016, Kompas merilis berita yang cukup membuat Generasi Milenial berfikir keras, mereka yang lahir di antara tahun 1981 – 1994 terancam kesulitan mendapatkan Rumah pada tahun 2021.
Serius ?, bagaimana jika mereka tidak mendapatkan warisan seperti Saya, maka menjadi Tukang Kontrak seumur hidup bisa saja terjadi.

Saya yang lahir tepat sebelum 1981 saja sudah merasakan betapa mahal nya harga hunian di Kota tidak terlalu besar seperti Jogja. 
Harga Perumahan di Sleman dengan radius 5 s/d 10 km dari UGM nilai nya sangat fantastis. 
Rumah baru dengan luas tanah 100 meter persegi dan bangunan 45 dihargai di kisaran 750 juta. 
Rumah second dengan masa pakai sekitar 10 tahun dibuka dengan kisaran harga 550 juta, itupun bisanya bukan di dalam kompleks Perumahan, di dalam Perumahan menengah dan elit harganya bisa lebih fantastis. 
Sebelah kompleks Rumah saya, Rumah dalam Cluster dengan luas tanah 100 m2 2Lt dijual dengan harga 1,7 M.

Jika mengikuti aturan kredit, maksimal 25 % dari pendapatan maka untuk mendapatkan Rumah senilai 500 juta harus menyiapkan dana cash sekitar 99 juta untuk DP dan Angsuran sebesar 4 s/d 5 juta, artinya Anda harus berpendapatan minimal 10 s/d 15 juta per bulan baik joint income dengan Istri atau gaji sendiri. 
Untuk PNS biasanya jauh lebih fleksible, ada banyak tawaran yang bahkan bisa menghabiskan hampir 100% pendapatan bulanan nya. 

Bisa dibayangkan jika ingin membeli Rumah seharga 1 M, maka minimal pendapatan harus berada di kisaran 28 Juta, itu pun kalau tidak memiliki cicilan Mobil, kalau ada maka minimal pendapatan harus berada pada kisaran 40 juta per bulan.

Income 15 juta perbulan dengan UMP Jogja yang hanya berkisar 1,5 juta bagaimana Anda bisa membayangkan mendapatkan Rumah. 
Beberapa Rekan saya mengambil opsi menyicil DP beberapa tahun, tetapi sulit mendapatkan Developer yang memiliki skema seperti itu, kalaupun ada biasanya harga Rumah yang ditawarkan ada pada kisaran 1 M ke atas.

Saat ini kebutuhan Rumah di Indonesia mencapai 11 juta Rumah dan akan terus meningkat pada beberapa tahun yang akan datang. 
Solusi untuk dapat membeli hunian untuk Generasi Milenial yang paling logis adalah Koperasi Perumahan. 
Jika Anda tidak bisa membeli sendiri, maka beli bersama untuk dipakai bersama. Perbankan juga akan lebih tertarik memberikan pembiayaan jika mereka yang membutuhkan Rumah berhimpun dalam Koperasi Perumahan Indonesia.


Dengan Koperasi Perumahan Harga Lebih Murah

Perlu saya tekankan, bahwa tulisan ini adalah pemantik aksi dari Kami, masih sebatas ide tetapi sangat potensial untuk dieksekusi, tentu jika kita bisa mengumpulkan minimal 20 Orang yang memiliki persamaan ide. 

Saya sendiri sudah memiliki Rumah yang representatif dan apa yang Saya lakukan lebih kepada keinginan Saya untuk berbagi pengalaman dan membantu Anda yang mungkin memiliki ide yang sama dengan Saya.

Saya akan membuat sebuah ilustrasi sederhana dengan perbandingan Rumah dari Developer senilai 1 M ke atas yang saya sebut diatas. 
Jika kita ber-koperasi, maka ada 2 hal yang bisa kita tekan secara signifikan, pertama adalah harga Tanah dan kedua adalah model dan biaya pembangunan. 
Pemilik Property dengan radius 5 km dari UGM biasanya enggan membuat Rumah 1 Lt karena keuntungan yang diperoleh akan turun. 

Saya ambil contoh sederhana :
Harga Tanah di atas 500 m2 di seputaran Jalan Palagan, Jogja bisa berkisar di angka 3 juta per meter. Jika bentuknya berupa kapling 100 meter apalagi di Perumahan bisa naik seharga 4 bahkan 6 juta per meter. 
Kita asumsikan akan membuat Rumah Type 36 dengan luas tanah 70 m2, maka akan dibutuhkan Tanah dengan luas sekitar 350 s/d 400 untuk 4 Rumah. 
Di Sleman sendiri saat ini ada peraturan untuk Developer tidak boleh membangun Rumah di bawah 100 meter persegi, tetapi karena kita Koperasi yang digunakan oleh Anggota sendiri maka akan jauh lebih fleksible.

Harga Tanah di sekitar area saya dengan luasan di atas 300 m2 berkisar antara 3 juta per meter dan Kapling luasan sampai 150 rata-rata di harga 5 s/d 6 juta per meter. 
Jika Kita membangun sendiri, biaya bangunan per meter persegi bisa ditekan hingga Rp.2,8 juta per m2, dengan Developer sekitar 4 juta per meter. 
Perbandinganya cukup signifikan:

Dibangun bersama oleh Koperasi
Tanah 70 Rp. 270 Juta
Bangunan 36 100 Juta
Total 380 Juta

Dibangun oleh Developer
Tanah 70 RP 420 Juta
Bangunan 36 144 Juta
Total 564 Juta

Cukup signifikan bukan !!??, ada selisih harga 184 Juta ?.
Perhitungan di atas masih harus dibuat lebih rinci, tetapi prinsip nya dengan membangun bersama-sama melalui Koperasi maka akan banyak keuntungan bagi Generasi Milenial.
1. Harga Rumah menjadi jauh lebih murah.
2. Skema pembayaran yang fleksible.
3. Lebih fair untuk penyelesaian sengketa bila terjadi ketidakmampuan bayar
4. Memberikan kepastian hukum atas kepemilikan Rumah.
5. Berpotensi menjadi bisnis sampingan bagi Anggota Koperasi:

Anda tertarik mendirikan Koperasi Perumahan Indonesia ?
Saya dukung 100% !!!

Sumber : Koperasi dot net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar